Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Semaumu...

Saat kau ingin hadir, kau hadir... Memberikan semua kenyamanan yang mampu membuatku melayang. Tapi tiba-tiba kamu menghilang. Hal yang sulit buatku mas. Sebelumnya aku berusaha keras untuk tidak bergantung kepadamu. Tapi kamu rusak semua itu dengan hadirmu yang tiba-tiba. Tapi kadang saat aku butuh kamu tak ada. Bahkan tak segan kamu tak menghiraukanku. Oh hatiiii Jangan berharap lebih. Kamu bukan yang spesial buatnya. Kamu bukan siapa-siapa. Apa kamu lupa? Tak akan pernah ada proses untuk semua ini. Kenapa kamu masih berharap? Hati kuatlaaaahh Akan ada yang menerima, mencintaimu apa adanya. Semua ini hanya proses... Ayo bangkit Semangat baru Kamu berharga Kamu layak dicintai

Semua akan terjawab pada waktunya

Saat aku ingin melepasmu, kau hadir. Membuatku rindu kembali dan terus merindumu. Berkali-kali kuyakinkan pada diriku, cintamu sudah untuknya dan bukan untukku. Jangan mudah jatuh, apalagi berharap. Terlalu sakit bukan jika kenyataannya tak seperti yang kamu harapkan? Video call, lama sekali tak berjumpamu dalam VC. Semalam kita berjumpa dalam VC, meskipun aku meminta untuk mengakhirinya dulu. Karena aku berusaha berpikir logis. Meskipun wajahmu terus membayangiku. Andaikan oh andaikan... Tapi aku sadar, semua tak akan ada proses. Mungkin semua ini hanya sementara. Dan aku tak boleh terlalu berharap. Bersabarlah wahai hati, semua hanya tentang waktu. Semua akan terjawab pada waktunya...

Entahlah, aku begitu yakin denganmu

Entahlah... Aku begitu yakin denganmu... Setiap kali aku ingin pergi kamu hadir. Tapi sebaliknya, saat aku membutuhkanmu kamu tak ada. Tapi setiap kali hati ini berpasrah, atas semua ketetapanNya, berpasrah atas segala rasa yang datang tak pernahpermisi kamu selalu hadir. Yang membuatku gagal move on... Aku kok membayangkan hidup bersamamu nanti, mendidik dan mengasuh Mia, yang semoga saja mendidik dan mengasuh adiknya Mia juga nanti. Dan aku berharap kamu bisa menyayangi Mia seperti menyayangi anak kandungmu sendiri. Dan kamu bisa menjadi figur ayah yang baik untuk Mia, itu harapku padamu mas. Yang membuatku begitu meyakinimu adalah duluuu kala kamu seolah-olah menyayangi Mia, bahkan saat kita belum pernah terjerumus dalam perasaan yang begitu dalam Kamu menyayangi Mia dan memberikan perhatian kepada Mia melebihi ayahnya sendiri. Itu yang membuatku yakin Semoga saja nanti dan seterusnya begitu andaikan kita memang berjodoh. Tapi aku tak ingin menghubungimu mas, bagiku beb

Kamu berharga, kamu layak dicintai...

Jangan memaksakan kehendak. Allah tau yang terbaik untukmu. Bisa jadi itu sangat menyakitkan, tapi itu baik buatmu. Bisa jadi itu sangat menyenangkan, tapi justru itu yang menyesatkan. Berpasrahlah kepada Allah. Allah Maha Besar dan Allah maha tau atas makhlukNya. Kamu boleh mencintai orang lain, tapi pastika dulu dia juga mencintaimu. Jangan terlalu berharap jika kamu sudah tidak diharapkan. Mungkin dulu dia yang begini begitu sehingga kamu merasa nyaman dan terjatuh. Tapi sadarlah, semua telah berbeda. Dia sudah tidak menginginkanmu lagi. Kamu berharga, kamu layak dicintai. Jangan mengorbankan hatimu untuk orang yang tidak mencintaimu. Kamu istimewa. Waktunya move on dan membuka lembaran baru. Tinggalkan semua yang sudah berlalu. Kesalahanmu adalah kamu tak pernah mencoba membuka lembaran baru dan kamu masih mengharapkannya. Ya, dia yang sudah tidak berminat lagi untuk meneruskan hubungan ini. Buat apa? Wasting time darling... Kamu istimewa. Akan ada orang yang ba

Tak ada proses

Tak ada proses Ya, itu yang kamu katakan mas... Semua rasa ini tak perlu dipelihara... Karena kamu bilang tak akan ada proses, yang berarti tak akan ada kelanjutan. Mungkin ini mudah bagimu mas, tapi bagiku ini tak mudah. Aku yang pernah terluka. Terluka karena gagal berrumah tangga. Kamu hadir saat aku tak menginginkanmu hadir. Tapi kamu memberikan segala kenyamanan yang membuat hatiku luluh. Membuatku serasa punya tempat bersandar yang selama ini aku tak punya. Dan aku luluh mas... Aku pun jatuh dalam ketergantungan kehadiranmu. Tapi saat aku siap menerima semuanya, kamu tak seperti dulu. Entahlah... Mungkin aku yang terlalu mudah terjatuh. Bahkan saat ada yang bilang, tak ada yang serius. Well, aku salah menilai... Bukan salahmu, tapi salahku terlalu cepat jatuh... Terlebih lagi, saat kamu bilang tak ada proses. Rasanya aku harus menyembuhkan lukaku lagi...

Tentangmu...

Tentangmu terlalu indah untuk kuceritakan... Aku tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi. Aku terlanjur nyaman denganmu mas. Semua berawal dari chat pada suatu malam itu, 20 April 2019. Entah kenapa, kamu membuatku terjatuh setelah sekian lama aku merasa berjuang sendiri. Dan kamu datang seolah olah mengobati semua lukaku. Aku tahu hubungan ini tidak mudah mas. Aku dan kamu yang masih saudara. Dalam hukum islam, kita sunnah untuk menikah. Tapi dalam budaya Jawa, yang ini tidak umum terjadi di masyarakat. Kita bukan orang lain. Orangtuaku sangat akrab dengan orangtuamu. Aku tak tahu alasanmu menjadi diam kenapa. Apakah kamu tahu ini semua akan rumit? Jika kita menuruti perasaan kita, mungkin akan banyak yang menentang kita. Tapi untuk mengesampingkan perasaan ini, terlalu berat buatku mas. Namamu selalu kusebut dalam doaku, yang entah akan bermuara kemana kisah ini. Akupun tak tahu. Aku pasrahkan semua kepadaMu yaa Rabb. Jika perasaan ini salah, mohon kembalikan kepada

Keluarga istimewa

Aku tak pernah membayangkan akan melalui lika-liku hidup seperti ini. Aku juga tak pernah membayangkan kegagalan dalam berrumah tangga terjadi padaku. Tapi ini semua harus aku lalui dengan tanpa tapi. Pernikahanku yang berumur kurang dari 4 tahun harus gagal. Bukan karena apa, tapi ini pilihan. Jalan hidup yang harus kupilih dengan sangat terpaksa. Bukan tidak sayang kepada anak, bukan karena ego orang tua semata. Sepasang suami istri ibaratkan suatu pakaian yang harus saling melengkapi. Istri menjadi pakaian suami dan begitu juga sebaliknya. Jika salah satu darimu tidak bisa lagi menjadi pakaian untuk yang lain, apakah yang harus dilakukan? Jika semua dibilang berawal dari salah pilih pasangan, well... time is over. Semua sudah berlalu. Mungkin iya salah pilih pasangan,tapi setelah menikah mengapa dia enggan berbenah kalau memang dia salah sebelumnya? Berbagai upaya sudah dilakukan, sampai aku merasa benar-benar berjuang sendirian. Hubungan kami tidak harmonis sejak putr